Sumber gambar: https://m.antaranews.com/foto/3548766/festival-jaranan-jawa-di-kediri
Menurut Wikipedia seni Jaranan ialah sebuah kesenian yang sudah ada pada jaman sebelum masuknya pengaruh Hindu dan Buddha. Kesenian ini merupakan bentuk Samanisme dalam ajaran animisme, yaitu dengan memasukkan roh leluhur (iyang/hyang) kepada tubuh seseorang untuk mencari berita gaib atau informasi ramalan dari punden leluhur di desanya atau wanua dalam kebudayaan
Pengertian Tari Jaranan
Jaranan adalah kesenian tradisional Indonesia yang menggunakan properti kuda-kudaan dari anyaman bambu atau kulit, dimainkan dengan tarian yang menggambarkan prajurit berkuda. Tarian ini sering diiringi musik gamelan dan memiliki unsur magis, di mana para penari bisa mengalami trance atau kesurupan. Kesenian ini dikenal di berbagai daerah di Jawa, seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Makna dan Fungsi Tari Jaranan
Sumber gambar:https://www.kedirikota.go.id/p/dalamberita/3238/seni-tari-jaranan-kediri-jadi-daya-tarik-tersendiri-bagi-pariwisata-jawa-timur
Jaranan atau kuda lumping adalah tari tradisional Jawa yang menggambarkan prajurit berkuda dengan kuda tiruan dari anyaman bambu. Tarian ini berfungsi sebagai hiburan dan ritual spiritual. Dalam pertunjukannya, penari sering mengalami trance, yang dianggap sebagai bentuk komunikasi dengan roh atau kekuatan gaib.
Ciri Khas Tari Jaranan
Sumber gambar https://www.alamy.com/indonesian-performing-jaranan-dance-kuda-lumping-kuda-kepang-dance-to-celebrate-bulan-bung-karno-image514836805.html.Ciri khas tari jaranan meliputi:
- Properti Kuda Tiruan: Penari menggunakan kuda tiruan dari anyaman bambu atau kulit, dihias menyerupai kuda.
- erakan Enerjik dan Dinamis: Gerakan tari cenderung cepat, ritmis, dan melibatkan banyak loncatan serta hentakan kaki.
- Unsur Mistis dan Trance: Penari sering mengalami kesurupan atau trance, yang menambah kesan mistis.
- Iringan Musik Tradisional: Menggunakan gamelan, gendang, dan kendang sebagai pengiring, dengan tempo yang dinamis mengikuti gerakan.
- Busana Tradisional: Penari mengenakan kostum khas Jawa, sering dengan tambahan aksesori berwarna-warni.
Asal Usul Tari Jaranan
Sumber gambar:https://rbtv.disway.id/read/20667/dahulu-jaranan-atau-kuda-lumping-bukan-untuk-dipertontonkan-cerita-awalnya-ritual-untuk-tolak-balaMenurut kompasiana beyond blogging. Membahas sejarah tari jaranan sendiri, dilansir dari website resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, sejauh ini belum ada data tertulis atau prasasti yang membahas tari jaranan. Namun ada relief candi yang memperlihatkan seorang perempuan bertapa dan pasukan berkuda yang diduga adalah Dewi Kilisuci. Hal ini kemudian dihubungkan dengan cerita lisan yang selama ini beredar di masyarakat bahwa sejarah tari jaranan dimulai ketika Dewi Songgo Langit atau Dewi Kilisuci yang merupakan putri dari Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan memiliki keinginan untuk menajadi petapa dan tidak ingin menikah. Akan tetapi sang ayah menentang keinginan tersebut dan sangat ingin putri mahkotanya tersebut menikah dan memiliki keturunan.
Setelah bertapa dan meminta petunjuk Dewa akhirnya Dewi Songgo Langit bersedia untuk menikah, namun ia mengajukan syarat bahwa bagi siapa saja yang melamarnya harus membuat kesenian yang belum ada di tanah Jawa. Raja Airlangga kemudian membuat sayembera atas syarat yang diajukan putrinya tersebut. Sayembara tersebut disambut baik oleh orang-orang yang ingin menikahi Dewi Songgo Langit. Mereka datang dari berbagai daerah, salah satunya adalah Klono Sewandono dari Wangker yang kemudian menjadi pemenang sayembara tersebut. Pernikahan Dewi Songgo Langit dan Klono Sewandono diiringi oleh kuda-kuda (dalam bahasa jawa disebut jaran) disertai dengan alunan musik terompet dari bambu dan kenong dari besi. Untuk menghormati kejadian inilah kemudian masyarakat Kediri melestarikan dan mengembangkan Tari Jaranan.




Comments
Post a Comment